
Mengusung tema besar “Pembiasaan yang Akan Menjadi Kebiasaan”, SD Muhammadiyah 11 Surabaya (SD Muhlas) resmi menutup rangkaian ujian praktik kelas 6. Ujian kali ini fokus pada uji kompetensi di bidang seni retorika dan bahasa, yang menjadi bekal penting bagi para calon lulusan.
Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas
Kegiatan yang diinisiasi oleh tim ISMUBA (Ismuba: Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) ini menghadirkan tiga opsi bahasa dalam ujian pidato. Pemilihan ketiga bahasa tersebut memiliki filosofi mendalam:
- Bahasa Jawa Krama Inggil: Hadir sebagai respons atas mulai terkikisnya bahasa pribumi di kalangan Generasi Z.
- Bahasa Inggris: Disiapkan agar siswa memiliki daya saing yang kuat di level internasional.
- Bahasa Arab: Upaya konkret dalam membumikan bahasa Al-Qur’an sebagai identitas siswa sekolah Muhammadiyah.
Meskipun hanya memiliki waktu persiapan selama satu pekan, semangat para siswa tidak luntur. Mereka diberikan kebebasan untuk memilih bahasa yang sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.
Dukungan Pembina Berkompeten
Keberhasilan para siswa tidak lepas dari bimbingan intensif para guru pembina yang ahli di bidangnya, antara lain:
- Ustadz Fauzan Muslim, S.H.I., M.Pd. (Pembina Bahasa Arab)
- Ustazah Robica, M.Pd. (Pembina Bahasa Inggris)
- Ustadz Woliono, S.Pd. (Pembina Bahasa Jawa)
Sebelum ujian dimulai, Ustadz Fathanur Rosyid, S.Pd.I., S.Pd., selaku penguji pidato Bahasa Arab, memberikan motivasi yang membakar semangat. Beliau melontarkan pertanyaan reflektif mengenai mimpi para siswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri seperti Mesir, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Tak lupa, ia memberikan apresiasi khusus bagi peserta pidato Bahasa Jawa. “Ini adalah bahasa yang bernilai luhur, bahasa pribumi kita,” ujarnya sembari mengingatkan pepatah “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung” agar siswa tetap menjaga adab di mana pun berada.
Visi Lulusan Berdaya Saing Global
Kepala Urusan (Kaur) ISMUBA SD Muhlas, Ahmad Mujaddid, S.H., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ujian praktik ini akan terus dievaluasi secara berkala. Hal ini bertujuan untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan guna melahirkan lulusan yang kompeten dan memiliki bekal spiritual yang kuat.
”Mungkin hari ini mereka butuh waktu untuk membiasakan diri dengan bahasa-bahasa tersebut. Namun, kami yakin suatu saat nanti, hal ini akan menjadi kebiasaan yang membawa mereka menjadi pribadi yang berdaya saing global,” tutupnya. (yupan)