
SD Muhammadiyah 11 Surabaya (SD Muhlas) memulai pembelajaran Al-Qur’an Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menggelar Pemetaan Jilid Tilawati bagi seluruh siswa baru kelas 1, Selasa (14/7/2026).
Kepala Urusan (Kaur) ISMUBA SD Muhlas, Ahmad Mujaddid mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal membaca Al-Qur’an setiap peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ).
Pemetaan sendiri diperlukan agar sekolah dapat menempatkan siswa pada jilid Tilawati yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ketelitian tim seleksi menjadi faktor penting agar hasil asesmen benar-benar menggambarkan kemampuan peserta didik.
“Kami mendorong seluruh ustaz dan ustazah yang mendapat amanah sebagai tim seleksi atau tim pemetaan agar menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Mujaddid menjelaskan, hasil pemetaan menjadi dasar dalam menentukan jilid Tilawati bagi setiap siswa. Penempatan yang tepat membuat pembelajaran BTQ dapat berlangsung secara bertahap sesuai perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an masing-masing peserta didik.
Ia mengatakan, tim penguji memang harus melakukan penilaian secara objektif saat proses seleksi. Penentuan jilid tidak boleh dipengaruhi faktor kedekatan maupun rasa kasihan kepada siswa karena dapat berdampak pada proses pembelajaran berikutnya.
“Kami berprinsip, jangan karena merasa kasihan atau mengenal murid, lalu menempatkannya di Tilawati Jilid 2, padahal kemampuan sebenarnya masih di Jilid 1,” ujarnya.
Selama proses pemetaan berlangsung, para penguji melakukan asesmen secara individual dengan pendekatan yang ramah. Suasana kegiatan berjalan tertib dan kondusif sehingga siswa baru lebih percaya diri saat mengikuti tes. Proses tersebut juga membantu penguji memperoleh gambaran kemampuan awal membaca Al-Qur’an setiap peserta didik.
Tim penguji bertugas di masing-masing kelas. Ustazah Atik dan Ustaz Jauhar bertugas di Kelas Al Wahid (CIP), Ustazah Zulaikha dan Ustaz Haris di Kelas Al Awwal, Ustazah Suhar dan Ustazah Syarifah di Kelas Al Ahad, Ustazah Masruroh dan Ustaz Ibrahim di Kelas Al Mubdi, serta Ustazah Adela dan Ustazah Aini di Kelas Al Fattah.
Hasil pemetaan akan menjadi dasar penentuan jilid Tilawati bagi setiap peserta didik. Dengan penempatan yang sesuai, guru dapat memberikan pembelajaran yang selaras dengan kemampuan siswa sehingga proses belajar Al-Qur’an berlangsung lebih terarah.
“Kami mengupayakan seluruh tim benar-benar telaten. Sebab kesalahan dalam pemetaan akan berpengaruh terhadap perkembangan belajar murid,” tandas Mujaddid.
*) Penulis: M Habib Muzaki